| Foto: Pinterest https://pin.it/3xnV03u |
Aku ga ngerti. Ini terlalu rumit.
Di mana letak salahnya?
Apakah doaku?
Apakah permintaanku terlalu sulit?
Aku hanya ingin membersamaimu, berjalan bersamamu, seperti katamu waktu itu.
Kamu yang terlalu terburu-buru atau aku yang terlalu jauh?
Entah.
Terasa melayang, lalu dihempaskan begitu keras hingga ke dasar.
Menangis sudah kulakukan.
Hampir hilang kewarasan.
I can't believe it.
Harapan, mimpi, cita-cita itu kina harus kulanjutkan sendirian.
'Tak apa.
Aku masih sanggup.
Jika pun langkahku terhenti, itu hanya sebentar.
Kau tak usah khawatir, tak perlu berbalik.
Lanjutkan langkah barumu, pun aku begitu.
Walaupun kau juga tahu, berhenti sebentar itu akan menurunkan hujan deras membasahi pipi.
Tapi sungguh, itu hanya fase dimana aku mulai bingung.
Harus ke mana dan kepada siapa aku melabuhkan pelukku.
Aku ingin mengucapkan terima kasih.
Tapi untuk apa?
Untuk siapa?
Untukmu?
Untuk cerita-cerita yang telah lalu?
Untuk undangan yang sedang kutangisi sampai tak tahu caranya berhenti?
Terlau rumit, juga membingungkan.
Aku memang menunggumu.
Menunggu kabarmu.
Tapi bukan dengan undangan bangsat ini yang kumaksud.
Menunggu tanpa pernah diberi penjelasan.
Harusnya aku tahu, arti diammu berarti penolakan.
Aku terlalu naif.
Memberikan seluruh perasaanku, percayaku, padamu.
Dan kini, aku kebingungan di mana nanti ruang untuk orang baru yang minat singgah dan menetap di hati yang lebam ini.
Ah, sudahlah.
'Tak sampai hati aku ingin bercerita.
Malu kepada yang membaca cerita lewat tulisan ini.
🎧Playlist
https://open.spotify.com/playlist/4jzHUvWeCD9I8BJd72GQCS?si=05d54a019fae46ba
✍🏻 O2R ditulis di Bumi pada 12022022
❗ Fiksi
Komentar