Pagi itu saya diberitahu salah seorang teman kuliah saya bahwa kelas kami mengalami penurunan jumlah mahasiswa. Kelas kami kehilangan salah satu anggotanya.
Bukan.
Bukan meninggal.
Ia pergi, namun bukan meninggal.
Ia tak akan kembali, karena ia mengundurkan diri. Saya sebagai bagian dari salah satu anggota kelas turut berempati. Mungkin, pikir saya ia memilih mengundurkan diri karena telah kehilangan semangat. Ia telah kehilangan seseorang yang orang lain bilang itu adalah cinta pertama anak perempuan. Saya mengerti, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yag sangat dicintai. Saya tidak memilih untuk menghakimi. Seperti biasa, saya diam. Diam dengan isi kepala yang mendesak untuk dikeluarkan, yang akhirnya lahirlah tulisan ini, tulisan yang sedang kalian baca.
Sehari setelah kepergian ayahandanya, kelas kami mengulurkan bantuan yang memang kami peruntukan bagi anggota kelas kami yang sedang mengalami musibah. Ia tak mau menerimanya, kekeh dengan pendiriannya tak mau merepotkan kelas. Padahal, kami hanya ingin peduli.
Itulah, keresahan isi kepalaku. Maaf, meracau. Hanya dengan seperti ini aku menjadi sedikit lebih lega. Terima kasih sudah membaca tulisanku.
.
.
✍️O2R ditulis di Bumi
Komentar